Sebelum menyampaikan materi, Edy terlebih dahulu mengajak peserta mengenal perjalanan karier yang telah dilaluinya. Dengan gaya bercerita yang santai, ia mengungkapkan bahwa perjalanan menuju posisi yang diembannya saat ini tidak serta-merta berjalan mulus.
Salah satu pengalaman yang ia ceritakan adalah ketika dirinya beberapa kali mengikuti seleksi kepala madrasah. Empat kali mengikuti tes kepala madrasah, tetapi belum juga mendapatkan kesempatan untuk dilantik.
Situasi tersebut tentu menjadi pengalaman tersendiri. Namun, Edy memilih untuk tetap menjalani proses dan tidak berhenti berharap. Pada suatu kesempatan, ia menceritakan kegelisahannya kepada seniornya, Pak Rojikun (Guru Fisika MAN 1 Gunungkidul). Dari sang senior, ia mendapatkan pesan sederhana yang kemudian terus diingatnya.
“Nanti pada suatu saat, waktunya akan tiba.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi Edy bahwa setiap orang memiliki waktu dan prosesnya masing-masing. Apa yang belum terjadi hari ini bukan berarti tidak akan pernah terjadi, melainkan bisa jadi masih menunggu momentum yang tepat.
Perjalanan karier Edy kemudian mengalami perubahan pada 2021, ketika ia mendapatkan amanah untuk bergabung di Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY sebagai Kasi GTK Pendidikan Madrasah. Dari sana, berbagai amanah terus dipercayakan kepadanya.
Ia kemudian dipercaya sebagai Ketua Tim Kerja PAI Bidang Pakis, selanjutnya mendapat amanah sebagai Ketua Tim Kepegawaian dan Hukum, hingga saat ini dipercaya menjalankan tugas sebagai Ketua Tim SDM Kanwil Kementerian Agama DIY.
Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari refleksi yang disampaikan Edy kepada para guru Fisika MA DIY. Menurutnya, jabatan dan posisi yang diraih dalam perjalanan karier merupakan sebuah capaian, tetapi bukan tujuan akhir dari pengabdian.
“Adanya kita di posisi struktural itu adalah prestasi dunia. Tetapi jangan lupa, prestasi dunia itu harus kita jadikan jalan untuk meraih prestasi akhirat,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam paparan Edy. Baginya, karier bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang bagaimana amanah yang diterima dapat memberikan manfaat dan bernilai sebagai bagian dari pengabdian.
Ia juga mengajak para guru untuk tidak terlalu berkecil hati ketika menghadapi proses yang belum sesuai harapan. Pengalaman empat kali mengikuti tes kepala madrasah sebelum akhirnya mendapatkan amanah di Kanwil menjadi contoh bahwa perjalanan menuju sebuah posisi tidak selalu berlangsung secara instan.
Kisah tersebut sekaligus memberikan motivasi bahwa setiap orang perlu tetap bekerja, belajar, dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya tanpa terlalu sibuk menghitung kapan hasilnya akan datang.
“Yang penting kita jalani prosesnya. Ketika waktunya tiba, insyaallah akan ada jalan,” pesan Edy.
Setelah berbagi kisah perjalanan karier, Edy kemudian melanjutkan paparannya dengan materi utama terkait pengembangan sumber daya manusia dan kepegawaian, sesuai dengan tema kegiatan MGMP Fisika MA DIY, “Optimalisasi Kompetensi SDM Guru Fisika dalam Meraih Karier dan Prestasi.”
Melalui paparan tersebut, para peserta diajak melihat pengembangan karier bukan sekadar persoalan mengejar jabatan, tetapi sebagai proses meningkatkan kapasitas diri, memperluas kontribusi, serta menjalankan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab.
Perjalanan Edy Purwanto menjadi ilustrasi bahwa karier memiliki ritmenya sendiri. Empat kali mengikuti tes kepala madrasah dan belum dilantik bukanlah akhir dari perjalanan. Justru dari proses tersebut terbuka jalan menuju berbagai amanah baru.
Bagi para guru Fisika MA DIY yang hadir, kisah tersebut menjadi pesan sederhana namun kuat: terus berproses, jangan berhenti berusaha, dan ketika mendapatkan amanah, jadikan prestasi dunia sebagai jalan menuju prestasi akhirat.
