About Me

header ads

BAHAN KAJIAN (OBJEK) SAINS - (BAG 1)

BAHAN KAJIAN (OBJEK) SAINS

Oleh : Arif Alfatah As Srageny


Rupa (struktur) sains jika dipandang sebagai ilmu, akan terdiri dari 3 unsur utama, yaitu: memiliki objek kajian (ontologis) , memiliki cara/metode mengetahui objek tersebut (epistomologis) , dan memiliki tujuan dari mengkaji objek tersebut (aksiologis). Objek kajian sains adalah alam semesta itu sendiri, tetapi alam yang bagaimana? 

Para ilmuwan (saintis) sejak dulu bersilang pendapat sesuai dengan sudut pandang dan kebutuhan dalam memandang alam semesta. Sudut pandang tentang alam secara garis besar bisa kita kelompokkan dari 4 sisi, yaitu alam dilihat dari sisi unsur penyusunnya (substansi), sisi ukurannya, sisi sifatnya (kualitas), dan sisi prosesnya. Pada ulasan ringkas kali ini, kita cukupkan terlebih dahulu membahas objek sains dari sisi unsur penyusunnya.

Alam semesta dilihat dari sisi unsur penyusunnya (substansi) terbagi ke dalam beberapa pandangan, yaitu;

PANDANGAN MONISME (1 UNSUR)

Menyatakan bahwa alam semesta dipandang tersusun dari satu unsur dasar. Thales berpendapat bahwa air sebagai penyusun dasar alam semesta, pendapat lainnya dikemukakan oleh Anaximendes yang memilih apeiron (sesuatu), Anximenes memilih udara. Pendapat lain yang dinyatakan oleh Permeides, Leucipus, dan Demokritus berpendapat bahwa atom (unsur terkecil yang tidak dapat dibagi lagi) sebagai penyusun dasar alam semesta. Sedangkan Neoplatonisme berpendapat bahwa Tuhan Yang Maha Tunggal adalah sumber munculnya realitas selanjutnya.

Sehingga bagi kaum monisme, ketika menganalisis gejala alam semesta maka pendapatnya akan dianalisis dengan pendekatan watak dari unsur penyusun dasar yang dipilihnya. Contoh misal, bagi Thales semua benda (manusia, hewan, tumbuhan, kayu, batu, dll) di alam semesta tidak akan lepas dari yang namanya air, benda-benda padat tersebut bisa merekat kuat susunannya karena terikat oleh unsur air, ketika benda-benda tersebut diperas maka unsur terbanyaknya adalah air.

PANDANGAN DUALISME (2 UNSUR)

Realitas alam semesta seluruhnya terdiri dari dua dunia, dunia indera (benda-benda jasmani) dan dunia idea. Dunia indera adalah serba jamak, berubah, dan tidak sempurna. Dunia idea itu tunggal, lestari, dan tidak berubah. Plato merupakan tokoh pencetusnya, menurutnya dunia idea mendasari dan menyebabkan kehadiran benda-benda jasmani, hubungan kedua dunia itu sangat erat tidak terpisahkan.

Rene Descartes berpendapat lain, baginya realitas alam semesta terdiri dari realitas fisik dan realitas mental. Semua realitas tersebut terbatas, realitas fisik seperti manusia, hewan, tumbuhan, batu, dll, sedangkan realitas mental seperti pikiran dan jiwa. 

Emanuel Kant membagi realitas alam semesta dengan pandangan lain yaitu  dunia fenomena dan dunia noumena. Dunia benda-benda sebagaimana yang tampak di hadapan kita dan yang dapat diketahui disebut dunia fenomena. Sedangkan noumena adalah dunia benda-benda sebagaimana adanya dalam diri mereka sendiri dan ada tetapi tidak dapat dikenali dalam pengalaman kita (transendental). Maksudnya, ketika kita melihat batu atau gunung, maka batu atau gunung itu hanyalah sebuah pancaran fenomena yang diterjemahkan oleh indera pengalaman kita, hakekat diri batu atau gunung sebenarnya tidak seperti yang kita indera. 

PANDANGAN PLURALISME (BANYAK UNSUR)

Pandangan yang paling terkenal adalah teori 4 unsur menurut Empecodles yang dipopulerkan oleh Aristoteles, menyatakan bahwa realitas alam semesta ini semuanya tersusun dari air, api, udara, dan tanah. Masing-masing unsur tersebut dijelaskan dengan watak panas-kering dan dingin-basah. Contoh analisisnya, mengapa batu ketika dilempar ke atas akhirnya kembali menuju tanah? karena unsur terbanyak dalam batu adalah tanah sehingga batu akan kembali ke unsur terbanyaknya. Mengapa kapas enggan jatuh menuju ketika dilempar ke atas? karena kapas selain tersusun dari tanah juga tersusun dari udara, sehingga kapas ingin menuju ke atas mengikuti udara tetapi unsur tanahnya lebih banyak sehingga menuju tanah.

Sebenarnya, konsep ini sudah lama ada di dunia ketimuran jauh sebelum teori 4 unsurnya Aristoteles, antara lain di Babilonia, Jepang, Tibet, Hinduisme, Budhisme, China, dll 

Menurut tradisi China, gejala-gejala alam dapat dikenal tersusun dari 5 unsur yaitu; kayu, api, tanah, logam, dan air. Kelima unsur tersebut saling terhubung mendukung dan menghancurkan satu sama lain dalam bentuk siklus lingkaran unsur. Hubungan saling mendukung bisa disikluskan; kayu menyalakan api, api menghasilkan tanah (abu/debu), tanah mengandung logam, logam mengumpulkan air, dan air menumbuhkan kayu. Hubungan saling menghancurkan disikluskan; kayu membelah tanah, tanah menyerap air, air memadamkan api, api mencairkan logam, dan logam memotong kayu. 

Pandangan lain tentang banyak unsur dikenalkan oleh Leibniz dengan konsep monade nya. Menurutnya, monade adalah mesin (kumpulan banyak) atomik yang bekerja di bawah kontrol Sang Maha Pemilik. Monade bergerak secara otomatis yang merupakan jiwa-jiwa otonom yang ditugaskan membangun alam semesta. Monade selalu tercipta dan mempunyai awal serta akhir. Bekerja secara misterius, manusia tidak tahu mengapa dan bagaimana ia membentuk suatu benda di alam semesta, kita hanya tahu hasilnya. Ruang dan waktu merupakan manifestasi kerja-kerja mesin atomik monade.

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;

"Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir" (QS. Al Waqi’ah: 71-73)

bersambung...InsyaAlloh....

==================================

Dari Tepian Lembah Ngosit

Barat Laut Yogyakarta


Setu Pahing

19 Ramadhan 1442 H 

1 Mei 2021 M

Posting Komentar

0 Komentar