Pacitan — Siapa bilang belajar fisika harus selalu ditemani papan tulis, spidol, dan rumus yang bikin dahi berkerut? Para guru Fisika yang mengikuti kegiatan MGMP Fisika MA DIY membuktikan bahwa fisika juga bisa dipelajari sambil jalan-jalan, termasuk ketika mengunjungi Museum SBY di Pacitan pada Kamis (17/9/26).
Dalam kegiatan bertema “Pengembangan Kompetensi Profesional Guru melalui Eksplorasi Fisika Kontekstual Berbasis Lingkungan dan Geowisata”, para guru diajak melihat berbagai objek di Museum SBY dari sudut pandang yang berbeda: bukan hanya sejarah dan seni, tetapi juga fisika yang ternyata diam-diam ikut “nongkrong” di dalamnya.
Tri Darmanto, salah satu peserta kegiatan, menjelaskan hubungan museum dengan fisika dengan gaya santai dan mengundang tawa.
“Jangan kira masuk museum itu fisikanya libur. Fisika itu tidak mengenal tanggal merah. Kita lihat lukisan, ada cahaya. Lihat kaca, ada optik. Jalan kaki keliling museum, ada gaya dan usaha. Bahkan kalau capek, itu sudah masuk materi fisika juga,” ujar Tri Darmanto sambil bercanda.
Menurut Tri, hampir setiap aktivitas manusia sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari konsep fisika. Bangunan museum, pencahayaan ruangan, penggunaan material, tata letak benda, hingga aktivitas pengunjung dapat menjadi contoh nyata untuk menjelaskan konsep fisika.
Ia kemudian memberikan contoh sederhana. Ketika pengunjung berjalan mengelilingi museum, tubuh melakukan usaha karena memberikan gaya untuk memindahkan tubuh. Ketika cahaya mengenai benda dan masuk ke mata, terjadi proses yang berkaitan dengan optika. Sementara keberadaan kaca, permukaan mengilap, maupun berbagai sumber cahaya di dalam ruangan dapat menjadi bahan diskusi mengenai pemantulan dan pembiasan cahaya.
“Jadi guru fisika itu harus punya mata yang agak ‘curiga’. Melihat benda apa pun, langsung bertanya: ini bisa dijadikan materi fisika tidak? Kalau lihat kaca, ingat optik. Lihat lampu, ingat listrik. Lihat orang berlari, ingat gerak. Lihat guru sudah lelah... ingat hukum kekekalan energi,” katanya disambut tawa peserta.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya MGMP Fisika mengembangkan pembelajaran kontekstual. Guru tidak hanya dituntut menguasai konsep, tetapi juga mampu menemukan hubungan antara konsep fisika dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari.
Kunjungan ke Museum SBY pun menjadi salah satu pengalaman belajar yang menarik sebelum rombongan melanjutkan eksplorasi ke sejumlah destinasi lain, yakni Kali Cokel, Sungai Maron, dan Pantai Kasap.
Bagi para guru, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa laboratorium fisika tidak selalu harus berada di dalam gedung. Museum, sungai, pantai, bahkan perjalanan menuju lokasi kegiatan pun dapat menjadi “laboratorium berjalan” untuk menemukan fenomena fisika.
Dan seperti disampaikan Tri Darmanto dengan nada bercanda, “Fisika itu ada di mana-mana. Yang kadang tidak ada cuma waktu untuk menjelaskannya di kelas.”
